Suara Karya Online (http://www.suarakarya-online.com/news.html?id=289876) menyebutkan, Idul Adlha tahun ini dilakukan dengan serentak. JAKARTA (Suara Karya): Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan perayaan Idul Adha jatuh pada Minggu, 6 November 2011. Dalam sidang isbat di kantor Kemenag, Jakarta, Jumat (28/10), tanggal 1 Dzulhijjah diputuskan jatuh pada Jumat, 28 Oktober 2011 ini.

Disebutkan pula bahwa sidang dipimpin oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Kemenag Bahrul Hayat, yang mewakili Menteri Agama. Sidang terebut dihadiri Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Umar Shihab dan Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Thomas Djamaluddin. Juga hadir perwakilan dan pengurus berbagai organisasi massa Islam seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persatuan Islam (Persis), Jamiyatul Washliyah, Persatuan Tarbiyah Islamiyah, dan ormas Islam lainnya.

Idul Adlha juga bersamaan dengan pelaksanaan di Madinah. Seperti disebutkan di Suara Karya Online, Mahkamah Agung Arab Saudi mengumumkan bahwa wukuf di Arafah jatuh pada hari Sabtu (5/11) pekan depan, sehingga Idul Adha pun jatuh pada 6 November 2011.

Akan tetapi kondisi ini sepertinya tidak akan terjadi pada ramadlan tahun depan (1433H/2012M). Berdasarkan perhitungan di Islamic Finder (http://www.islamicfinder.org/Hcal/hdate_next.php) Ramadlan 1433 H dimulai pada tanggal 20 Juli 2012. Sedangkan berdasarkan http://moeidzahid.site90.net, ramadlan 1433H dimulai pada tanggal 21 Juli 2012.

Berikut adalah kalender hasil perhitungan yang ada di Islamic Finder.

Gambar berikut ini menurut http://moeidzahid.site90.net


Walaupun ramadlan mulainya berbeda, ternyata Idul Fithri akan kembali dilaksanakan serentak berdasarkan kalender dari keduanya. Sebagaimana terlihat di kedua gambar di atas, Islamic Finder menyebutkan ramadlan 1433H 30 Hari, sedangkan kalender dari http://moeidzahid.site90.net/ menyebutkan ramadlan tahun itu hanya 29 hari. Berikut adalah kalender Bulan Syawal 1433 H menurut Islamic Finder

Saya kira ini kan masih lama, tapi sudah bisa diketahui perbedaan itu. Kalau dipikir, tentunya ini kan sama-sama menggunakan hisab, tapi kok hasilnya beda ya? Jadi perbedaanya bukan antara cara hisab dan rukyat, tapi perbedaannya sama-sama dari cara hisab.

Menurut pakar Astronomi dari LAPAN, Bapak Prof. Thomas Djamaluddin, di http://tdjamaluddin.wordpress.com/2011/10/05/kita-kritisi-wujudul-hilal-tetapi-kita-semua-mencintai-dan-menghormati-muhammadiyah, potensi perbedaan akan terus terjadi selama masalah perbedaan kriteria tidak diselesaikan.